Dirgahayu Bukittinggi Ke-232, Sesi Makan Bajamba di Jam Gadang

Sudah pernah ikut makan bajamba? Makan bajamba adalah salah satu tradisi Minangkabau, makan yang dilakukan bersama-sama 5 hingga 7 orang sambil duduk bersila (bersimpuh untuk wanita). Uniknya makanan diletakkan dalam nampan besar untuk dinikmati bersama-sama. Adat makan bajamba ini unik dan tidak sama di semua daerah Minangkabau. Khususnya di Kota Bukittinggi, makan bajamba menyediakan 8 jenis lauk pauk. Tanggal 20 Desember 2016, bertempat di pelataran Jam Gadang diadakan tradisi makan bajamba dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Bukittinggi yang ke-232.

Bukittinggi Dalam Sejarah:

Bukittinggi dalam kehidupan ketatanegaraan semenjak zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang serta zaman kemerdekaan dengan berbagai variasinya tetap merupakan pusat Pemerintahan Sumatera bahagian Tengah maupun Sumatera secara keseluruhan, bahkan Bukittinggi pernah berperan sebagai Pusat Pemerintahan Republik Indonesia setelah Yogyakarta diduduki Belanda dari bulan Desember 1948 sampai dengan bulan Juni 1949.

Semasa pemerintahan Belanda dahulu, Bukittinggi oleh Belanda selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan, dari apa yang dinamakan Gemetelyk Resort berdasarkan Stbl tahun 1828. Belanda telah mendirikan kubu pertahanannya tahun 1825, yang sampai sekarang kubu pertahanan tersebut masih dikenal dengan Benteng ” Fort De Kock “. Kota ini telah digunakan juga oleh Belanda sebagai tempat peristirahatan opsir-opsir yang berada di wilayah jajahannya di timur ini.

Oleh pemerintah Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian Pemerintah militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand karena di sini berkedudukan komandan Militer ke 25. Pada masa ini Bukittinggi berganti nama dari Taddsgemente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya diperluas dengan memasukkan nagari-nagari Sianok, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba dan Bukit Batabuah yang sekarang kesemuanya itu kini berada dalam daerah Kabupaten Agam, di Kota ini pulalah Pemerintah bala tebtara Jepang mendirikan pemancar Radio terbesar untuk pulau Sumatera dalam rangka mengibarkan semangat rakyat untuk menunjang kepentingan perang Asia Timur Raya versi Jepang.

Pada zaman perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan. Dari bulan Desember 1948 sampai dengan bulan Juni 1949 ditunjuk sebagai Ibu Kota Pemerintahan darurat Republik Indonesia ( PDRI ), setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Selanjutnya Bukittinggi pernah menjadi ibukota Propinsi Sumatera dengan gubernurnya Mr. Tengku Muhammad Hasan. Kemudian dalam peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang No. 4 tahun 1959 Bukittinggi ditetapkan sebagai Ibu Kota Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan-keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau yang sekarang masing-masing Keresidenan itu telah menjadi propinsi-propinsi sendiri.

Setelah keresidenan Sumatera Barat dikembangkan menjadi Propinsi Sumatera Barat, maka Bukittinggi ditunjuk sebagai ibu Kota Propinsinya,. semenjak tahun 1958 secara defacto ibukota Propinsi telah pindah ke Padang namun secara dejure barulah tahun 1978 Bukittinggi tidak lagi menjadi ibukota Propinsi Sumatera Barat, dengan keluarnya Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1979 yang memindahkan Ibukota Propinsi Sumatera Barat ke Padang. Sekarang ini Bukittinggi berstatus sebagai kota madya Daerah Tingkat II sesuai dengan undang-undang No. 5 tahun 1974 tentang Pokok Pemerintah di Daerah yang telah disempurnakan dengan UU NO. 22/99 menjadi Kota Bukittinggi.

Pemerintah Kota Bukittinggi, bekerjasama dengan Universitas Andalas dan beberapa pakar sejarah baik di daerah maupun di tingkat nasional telah menseminarkannya. Hasil seminar tersebut mendapat persetujuan DPRD Kota Bukittinggi dengan Surat Keputusan No.10/SK-II/DPRD/1988 tanggal 15 Desember 1988, akhirnya Pemerinath Daerah dengan Surat Keputusan walikota Kepala Daerah Kota Bukittinggi No. 188.45-177-1988 tanggal 17 Desember 1988 menetapkan Hari Jadi Kota Bukittinggi tanggal 22 Desember 1784. Sumber: Pemda Kota Bukittinggi

Acara makan bajamba ini diikuti oleh masyarakat Kota Bukittinggi dan sekaligus sebagai event pariwisata yang menarik bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Dimulai dengan arak-arakan jamba yang diusung oleh para bundo kanduang menuju lokasi pelataran Jam Gadang. Para bundo kanduang dengan berpakaian cantik warna warni berbaris teratur menuju lokasi. Wajah dan senyum ceria mengiringi arak-arakan ini.

Galeri Foto

Walau sudah jarang dilakukan, makan bajamba masih bisa dijumpai dalam berbagai acara adat. Misalnya pada acara perkawinan adat di Minangkabau, termasuk di Kota Bukittinggi. Buat yang belum pernah melihat tradisi ini tentu menjadi menarik, apalagi bisa ikutan untuk makan bajamba. Dan dalam acara kemaren itu, para tamu bahkan bisa ikut mencicipi makanan selain merasakan sensasi meriahnya suasana. Tidak ada salahnya untuk sesekali mencoba, minimal menyaksikan tradisi unik ini.

Dirgahayu Bukittinggi!